5 fakta Freedom Finansial point ketiga bikin nyesek
Kamu merasa gagal total cuma gara-gara video pamer saldo 15 detik. Itu bukan edukasi, itu pornografi finansial yang sengaja bikin kamu insecure. Mari kita bongkar kenapa dompetmu kosong sementara mereka makin kaya. Kita akan bedah lima kebohongan freedom finansial yang dijual influencer. Jam 11.00 malam mata sepet.
Kamu scroll layar lihat bocah umur 22 tahun pamer profit ribuan persen. Kamu kerja keras tapi saldo nambahnya kayak siput. Orang bilang kamu miskin karena kurang hemat tapi kita bilang itu sampah. Mereka ndak cari murid mereka cari mangsa buat membiayai gaya hidup mereka. Jadi pilihannya cuma dua sekarang. Tutup video ini dan tetap jadi sapi perah mereka atau tonton sampai habis dan kita retas manipulasi finansial ini biar kamu berhenti halu.
Mitos nomor 5. Mereka menjual ide kalau pensiun dini itu surga dunia di mana kamu cuma duduk di pantai minum kelapa muda. Padahal secara psikologis otak manusia itu membusuk kalau enggak ada tantangan. Banyak orang yang sudah mencapai kebebasan finansial malah depresi atau balik kerja lagi karena bosan setengah mati.
Definisi freedom yang asli bukan berhenti kerja, tapi punya Value money. Uang yang cukup buat kamu bilang enggak ke bos toxic, enggak ke klien rewel, dan gak ke lembur paksa. Jadi yang kita kejar itu otonomi atas waktu, bukan jadi pengangguran elit. Tapi pemahaman mindset ini enggak ada gunanya kalau kamu enggak sadar fakta menyakitkan tentang latar belakang mereka di kebohongan nomor 4.
Kita cuma diperlihatkan satu orang sukses drop out kuliah jadi miliarder. Tapi kita dipaksa lupa sama 10.000 orang lain yang drop out dan sekarang nasibnya hancur lebur. Influencer muda sering teriak nyuruh kamu berani ambil risiko. Quit your job. Bakar kapal. Cek dulu siapa bapaknya. Kalau bisnis mereka bangkrut, ada rumah orang tua di kawasan elit buat pulang.
Kalau kamu gagal, kamu diusir dari kontrakan. Risiko yang mereka ambil itu semu karena ada jaring pengaman emas. Sementara risiko kamu itu nyata. Menghapus faktor privilege dari cerita sukses adalah pembohongan publik paling jahat. Dan ini membawa kita ke model bisnis mereka yang sebenarnya di kebohongan nomor 3.
Zaman demam emas, orang yang paling kaya bukan penambang, tapi penjual skop. Di era digital, skopnya adalah kelas online, ebook, atau grup sinyal trading VIP. Coba perhatikan siklus setannya. Mereka sewa mobil mewah atau Airbnb bagus, bikin konten pamer profit yang seringkiali cuma akun demo, lalu buka kelas rahasia sukses.
Orang yang lagi kepepet butuh uang kayak kamu, akhirnya beli kelas itu. Influencer jadi kaya beneran dari uang transferan pendaftaranmu. Lalu mereka pamer lagi buat cari korban baru. Pikir pakai logika. Kalau metodenya beneran sakti dan bisa cetak uang tanpa batas, kenapa dijual seharga R.000? R. Kenapa dia butuh saingan? Jawabannya karena bisnis real mereka adalah jualan ludah ke kamu.
Tapi jualan ini laku keras karena banyak orang masih percaya hitungan “ngawur” di kebohongan nomor dua. Kamu pasti pernah dengar kalimat basi ini: “Uang kopi Rp30.000 kalau ditabung 10 tahun bisa jadi rumah.”
Oke, kita hitung bareng.
Rp30.000 x 30 hari = Rp900.000 per bulan
Rp900.000 x 12 bulan = Rp10.800.000 per tahun (± Rp10,8 juta)
Rp10.800.000 x 10 tahun = Rp108.000.000 (Rp108 juta)
Nah, masalahnya: 10 tahun lagi harga rumah biasanya sudah naik, bahkan bisa 2–3 kali lipat (tergantung kota dan lokasi). Jadi saat tabunganmu baru ngumpul Rp108 juta, harga rumah yang kamu incar bisa jadi sudah jauh lebih mahal.
Uang R juta hasil menderita puasa kopi itu cuma cukup buat bayar biaya admin KPR sama pagar depan doang. Masalah kamu bukan pengeluaran Rp20.000 yang bikin kamu tetap waras di tengah gila kerja. Masalah utamanya adalah pemasukan yang terlalu kecil. Influencer menyuruh kamu hidup menderita dengan hemat ekstrem daripada menyuruh kamu cari cara menaikkan value diri.
Ini matematika kemiskinan yang mematikan. Dan puncaknya semua ini bermuara pada kesalahpahaman fatal di kebohongan nomor satu. Biarkan uang bekerja untukmu adalah kalimat paling berbahaya buat kelas menengah yang modalnya pas-pasan. Uang itu seperti tentara. Kalau kamu cuma punya lima tentara alias modal kecil, kamu gak bisa jajah negara, kamu mati konyol. Kita hitung realitanya.
Kalau kamu punya tabungan Rp5 juta hasil kerja keras, lalu ditaruh di instrumen investasi 10% per tahun, hasilnya cuma Rp500.000 setahun, dibagi 12 bulan itu cuma 41.000 perak per bulan. Itu bukan financial freedom. itu cuma cukup buat beli paket data buat nonton video influencer itu lagi.
Sadar untuk dapat penghasilan setara UMR Jakarta dari passive income murni, kamu butuh aset minimal R sampai R2 miliar. Jadi berhenti bermimpi tidur dapat duit kalau active income kamu masih ngos-ngosan. Jadi, mari kita rekap realitanya. Pensiun dini itu membosankan. Sukses mereka seringkiali dibacking orang tua. Kelas mereka cuma jualan ludah.
Hemat kopi gak bikin kamu kaya raya. Dan passive income itu omong kosong kalau kamu enggak punya modal gede. Terus kita harus pasrah dan miskin selamanya? Enggak. Justru kita harus bangun dari mimpi siang bolong ini. Lupakan dulu passive income. Fokus gila-gilaan. naikkan active income, tingkatkan skill, karir, atau bangun bisnis real, entah itu dagang atau jasa, bukan spekulasi halu.
Berhenti donasi ke influencer lewat kelas abal-abal mereka. Investasi ke otak sendiri lewat buku atau sertifikasi teknis. Definisikan freedom versi kamu sendiri. Mungkin bukan Ferrari, tapi tidur nyenyak tanpa dikejar hutang pinjol itu valid. berhenti merasa kecil di hadapan bocah TikTok yang mobilnya mungkin sewaan. Kayak itu maraton bukan lari sprint.
Kalau ada yang nawarin jalan pintas, pegang dompetmu erat-erat dan lari ke arah sebaliknya. Kita bangun kekayaan dengan cara lama, kerja cerdas, konsisten, dan enggak halu. Sampai jumpa di garis finish yang real. Kebohongan L. Definisi freedom yang salah. Kebohongan nomor 5 adalah definisi freedom yang sengaja dibikin sesat.
Coba perhatiin polanya. Influencer selalu jual mimpi pensiun dini itu visualnya sama persis. Duduk santai di pantai Bali, laptop tertutup, minum kelapa muda, dan enggak ngapa-ngapain seumur hidup. Kelihatannya enak banget, kan? Padahal kalau kita bedah pakai logika psikologi, itu jebakan paling konyol. Secara biologis, otak manusia itu didesain buat memecahkan masalah.
Kita butuh tantangan biar tetap waras. Kalau tiba-tiba kamu berhenti total dari segala aktivitas produktif di usia 30 tahun, cuma karena saldo udah cukup, otak kita bakal membusuk. Makanya banyak banget orang yang udah mencapai fire atau financial independence retire early malah kena depresi berat atau akhirnya balik kerja lagi dalam setahun.
Kenapa? karena bosan setengah mati. Bengong di pinggir pantai itu asik kalau cuma seminggu buat liburan. Tapi kalau itu jadi rutinitas seumur hidup, itu namanya neraka dunia. Rasanya kosong. Kamu bakal merasa enggak berguna karena enggak ada lagi yang diperjuangkan. Jadi, tolong catat ini baik-baik. Financial freedom yang asli itu bukan tentang berhenti kerja atau jadi pengangguran elit.
Freedom itu tentang otonomi. Ini tentang punya uang yang cukup buat bilang gak. Istilah kasarnya punya F money. Bayangin kamu punya aset yang cukup buat hidup tanpa gaji bulanan. Saat bos kamu nyuruh lembur enggak masuk akal, kamu bisa bilang enggak. Saat klien toxic minta revisi ke-10 tanpa bayar, kamu bisa tolak mentah-mentah.
Saat lingkungan kerja mulai bikin mental kamu rusak, kamu bisa resign detik itu juga tanpa takut besok anak istri makan apa. Itu kuncinya. Kita mengejar kebebasan buat memilih pekerjaan yang kita suka, bukan buat lari dari tanggung jawab dan jadi malas. Influencer jualan mimpi malas-malesan. Karena itu yang paling laku dijual ke orang yang lagi capek kerja kayak kita.
Padahal yang kita butuhkan sebenarnya adalah kendali penuh atas waktu kita sendiri, bukan ketiadaan aktivitas. Jadi kalau tujuan utama kamu cuma mau rebahan selamanya, mending bangun sekarang karena itu resep gila. Tapi masalah salah definisi ini sebenarnya cuma permukaan. Ada hal yang jauh lebih licik dan manipulatif yang senyaja disembunyikan para influencer ini.
Mereka sering teriak-teriak menyuruh kita buat berani ambil resiko ekstrem dan bakar kapal. Tapi mereka gak pernah cerita soal satu fakta curang tentang latar belakang mereka sendiri. Kebohongan nomor empat ini bakal bikin kamu sadar kenapa saran mereka bisa bikin kamu jadi gelandangan. Sementara mereka tetap aman. Sentosa.
Biarpun gagal total. Kita bongkar sekarang kebohongan empat, Survivorship bias. Kebohongan nomor empat ini namanya Survivorship bias. Dan ini racun paling manis yang sering kita telan bulat-bulat. Kamu pasti sering dengar narasi klasik soal Bill Gates atau Mark Zuckerberg yang drop out kuliah terus jadi miliarder.
Kan? Influencer suka banget pakai contoh ini buat bilang kalau sekolah itu enggak penting dan ijazah itu cuma kertas sampah. Pesannya, seolah-olah kalau kamu mau sukses besar, kamu harus berani ambil jalan ekstrem dan melawan arus. Tapi masalahnya mata kita ditutup sebelah. Ini namanya bias logika. Media dan influencer cuma menyorot satu orang yang menang lotre kehidupan ini.
Mereka lupa atau sengaja lupa menyorot 10.000 orang lain yang juga drop out, juga nekad, juga melawan arus. Tapi sekarang nasibnya luntang-lantung enggak jelas. Karena bisnisnya gagal total dan mereka enggak punya ijazah buat cari kerjaan cadangan. Mayat-mayat kegagalan ini enggak pernah diwawancara di podcast, makanya kamu merasa mereka enggak ada.
Ini membawa kita ke fakta yang lebih pahit soal jaring pengaman. Coba perhatikan baik-baik saat influencer muda itu teriak di depan kamera sambil nyuruh kamu berani ambil resiko? Resign dari kerjaan 9 to5 kamu bakar kapal kamu. Jangan cari aman. Kalimatnya emang heroik banget. Bikin darah muda kita mendidih pengen langsung lempar surat resign ke muka bos.
Tapi pernah enggak kamu cek siapa bapaknya atau apa latar belakang keluarganya sebelum mereka sukses? Kebanyakan dari mereka kalau kita telusuri punya privilege yang enggak main-main. Kalau bisnis kopi kekinian atau startup mereka bangkrut, mereka tinggal pulang ke rumah orang tua di kawasan elit, istirahat sebentar, terus dimodalin lagi buat bikin bisnis baru.
Resiko buat mereka itu cuma simulasi. Sementara kamu, kalau kamu telan mentah-mentah saran nekad itu terus kamu gagal, kamu enggak punya rumah mewah buat pulang. Kamu diusir dari kontrakan. Kamu dan keluarga kamu bisa gak makan. Resiko yang mereka jual itu semu. Sementara resiko yang kamu hadapi itu nyata menyangkut hidup dan mati.
Jadi, berhenti merasa bodoh atau penakut cuma karena kamu memilih main aman dan tetap kerja kantoran. Kamu itu realistis karena kamu sadar kamu enggak punya pelampung emas yang mereka pakai. Tapi kalau kamu pikir masalah privilege ini udah bikin kesal, tunggu dulu. Kebohongan nomor 4 ini cuma masalah mentalitas. Kebohongan nomor yang akan kita bahas ini jauh lebih jahat karena ini membongkar gimana caranya mereka memindahkan uang dari dompet kamu ke rekening mereka dengan cara yang sangat manipulatif.
Mari kita bedah kebohongan nomor 3. Kebohongan tiga. Bisnis mereka bukan trading, tapi jualan ludah ke kamu. Kebohongan nomor tiga adalah rahasia umum yang paling busuk. Bisnis utama mereka bukan trading, bukan investasi, tapi jualan ludah ke kamu. Kita sering dengar istilah the shovel seller atau penjual sekop. Zaman demam emas dulu, yang jadi miliarder bukan penambang yang kotor-kotoran cari emas di lumpur, tapi orang licik yang jualan sekopenang bodoh itu.
Di era digital sekarang, skopnya berubah wujud jadi e-book PDF sampah, grup sinyal VIP atau seminar online harga jutaan. Coba kita bedah siklus setannya biar mata kamu terbuka. Pertama, mereka sewa apartemen mewah atau mobil sport harian. cuma buat konten. Kedua, mereka pamer screenshot profit hijau tebal di aplikasi yang seringkiali cuma akun demo alias uang mainan.
Ketiga, pas kamu lagi insecure dan putus asa lihat saldo sendiri, mereka buka pendaftaran kelas dengan judul bombastis rahasia sukses jalur langit. Nah, uang pendaftaran dari ribuan orang putus asa kayak kamu inilah yang bikin mereka kaya beneran. Mereka enggak butuh profit dari pasar saham atau kripto yang naik turun enggak jelas.
Mereka butuh transferan pasti dari rekening kamu. Uang kamu yang dipakai buat bayar sewa mobil mewah tadi, lalu siklusnya diulang terus buat mancing korban baru. Pakai logika sederhana sahaja. Kalau beneran ada indikator ajaib atau robot trading yang bisa cetak uang R juta sehari tanpa rugi, ngapain repot-repot diajarkan ke orang asing di internet seharga R00.
000 perak? Kenapa dia butuh recehan dari kita? Kenapa dia rela menciptakan ribuan saingan baru di pasar yang sama? Jawabannya sederhana dan menyakitkan karena metode trading aslinya rugi atau enggak konsisten. Yang konsisten cair cuma uang iuran member VIP kamu. Jadi sadarlah kamu bukan murid kesayangan mereka.
Kamu itu donatur gaya hidup mereka. Kamu cuma sapi perah yang diperas sampai kering buat bayar cicilan kemewahan yang mereka pamerkan ke kamu tiap hari. Tapi penipuan model bisnis ini belum seberapa menyakitkan kalau dibandingkan dengan kebohongan nomor dua. Di nomor selanjutnya kita akan bongkar manipulasi matematika yang sering dipakai influencer buat bikin kamu merasa bersalah seumur hidup cuma gara-gara jajan kopi.
Padahal hitung-hitungannya sampah total. Siapkan kalkulator karena fakta berikutnya bakal bikin kamu marah besar. kebohongan dua, matematika kemiskinan. Lu gak bisa kaya cuma dari stop ngopi. Coba kalau uang kopi R30.000 yang kamu beli tiap hari itu ditabung, 10 tahun lagi bisa jadi rumah.
Kalimat sampah ini pasti sering banget lewat di timeline kamu, kan? Seolah-olah alasan kita enggak kaya-kaya itu karena kita kebanyakan jajan es kopi susu atau beli seblak, bukan karena struktur gaji yang emang enggak ngotak. Ini adalah kebohongan nomor dua yang paling sering diulang-ulang. Mitos late factor. Yuk, kita bedah pakai kalkulator, jangan pakai perasaan.
Anggaplah kamu super disiplin. Kamu puasa ngopi, puasa nongkrong, hidup menderita kayak pertapa. 30.000 di* 30 hari itu Rp900.000 setahun sekitar R juta. Kalau kamu lakuin ini secara konsisten selama 10 tahun penuh penderitaan, total uang yang terkumpul cuma Rp100 juta. Pertanyaannya simpel, di tahun 2034 nanti, rumah apa yang harganya Rp100 juta di kota besar? Uang segitu paling cuma cukup buat bayar uang muka, biaya notaris sama pagar depannya doang.
Sementara kamu sibuk ngumpulin recehan dari hasil nahan haus. harga properti udah lari maraton ninggalin daya beli kita. Ini yang kami sebut sebagai matematika kemiskinan. Para influencer ini nyuruh kamu fokus ke pengeluaran yang sifatnya receh. Padahal masalah utamanya ada di pemasukan kita yang kekecilan.
Mau kamu hemat sampai berdarah-darah pun kalau gajinya cuma UMR dan enggak ada kenaikan signifikan ya hasilnya tetap jalan di tempat. Kamu didoktrin buat mikirin diskon 1000 perak sampai botak. Alih-alih disuruh mikirin gimana caranya naikin skill biar nilai pasar kamu naik dua kali lipat. Energi mental kita habis cuma buat strategi bertahan hidup, bukan buat strategi ekspansi kekayaan.
Jadi stop merasa bersalah kalau sesekali kamu beli kopi mahal biar tetap waras di kantor. Pengeluaran kecil itu bukan penyebab kemiskinan kita. Itu cuma bahan bakar biar kita ggak gila menghadapi tekanan kerja. Tapi kalau kamu pikir mitoskopi ini udah paling konyol, tunggu sampai kamu dengar kebohongan nomor satu. Ini adalah raja terakhir dari segala tipuan finansial.
Kebohongan paling mematikan yang bikin banyak orang kehilangan tabungan masa depan karena percaya kalau mereka bisa kaya raya tanpa kerja sama sekali. Siapkan mental kamu karena fakta terakhir ini bakal nampar logika kita bolak-balik. Kebohongan satu, passive income itu mainan orang kaya, bukan orang miskin. Kebohongan nomor satu dan ini adalah rajanya manipulasi.
Kalimat biarkan uang bekerja untukmu itu terdengar seksi dan jenius, kan? Tapi kenyataannya kalimat ini adalah racun paling mematikan buat kelas menengah kayak kita yang modalnya masih pas-pasan. Mari kita bongkar logika ini pakai analogi sederhana. Anggap uang itu adalah tentara. Kalau kamu punya 1 juta tentara, kamu bisa menjajah negara lain.
Kamu bisa bikin aturan sendiri. Kamu menang. Tapi kalau kamu cuma punya lima orang tentara alias modal kecil, terus kamu suruh mereka perang melawan inflasi di garis depan yang ada mereka mati konyol. Uang itu sifatnya pemalas kalau jumlahnya sedikit. Dia baru jadi pekerja keras kalau temannya ada miliaran.
Coba kita hitung pakai kalkulator bukan pakai perasaan. anggap kamu sudah nabung mati-matian, menahan diri enggak beli kopi, enggak nongkrong, sampai terkumpul modal R juta lalu kamu taruh di saham atau instrumen investasi yang kasih return 10% per tahun. Asal kamu tahu saja, 10% itu angka yang sudah sangat agresif dan tinggi.
Hasilnya berapa? Rp500.000. Ingat, itu per tahun. Kalau kita bagi 12 bulan hasilnya adalah 41.000 perak per bulan. Apakah ini yang mereka sebut financial freedom? 41.000 itu bukan kebebasan finansial. Itu cuma cukup buat beli paket data supaya kamu bisa nonton video pamer harta dari influencer itu lagi.Sadar, kamu enggak bisa ngandalin hidup dari recehan sisa kembalian pasar. Fakta pahitnya adalah passive income itu permainan volume. Mainan orang yang sudah kaya, bukan jalan buat jadi kaya. Supaya kamu bisa dapat penghasilan setara UMR Jakarta, katakanlah 5 juta per bulan dari passive income murni dengan instrumen yang aman dan stabil, kamu butuh aset tunai minimal Rp1,2 miliar.
Pertanyaannya, kamu punya uang segitu di rekening nganggur sekarang? Kalau jawabannya belum, berarti berhenti bermimpi passive income. Berhenti terobsesi sama dividen receh. Kalau buat bayar kosan saja masih pusing. Fokus kita sekarang bukan cari tempat parkir uang yang nyaman, tapi cari cara biar uangnya ada dulu dalam jumlah besar.
Kita harus kumpulkan miliar pertama dengan keringat, bukan dengan rebahan. Sekarang ilusi itu sudah kita hancurkan rata dengan tanah. dari definisi pensiun yang salah sampai matematika investasi yang ternyata menipu. Terus kalau semua janji manis di internet itu bohong, apa yang harus kita lakukan besok pagi supaya nasib kita beneran berubah? Jangan khawatir, kita punya peta jalannya di kesimpulan ini.
Jadi, mari kita rekap sebentar biar logika kita lurus lagi. Pensiun dini itu ternyata membosankan. Sukses mereka seringkiali dibacking harta orang tua. Kelas online mereka cuma jualan ludah. Hemat kopi enggak bakal bikin kamu jadi miliarder. Dan passif income itu omong kosong kalau modal kamu masih pas-pasan. Terus sekarang kita harus apa? Pasrah dan miskin selamanya? Enggak dong.
Justru kita harus bangun dari tidur panjang ini. Solusinya sederhana tapi enggak gampang. Lupakan dulu mimpi passif income. Fokus gila-gilaan naikkan active income kamu. Tingkatkan skill, hajar karir, atau bangun bisnis real kayak dagang atau jasa. Jangan spekulasi konyol. Berhenti juga donasi uang sisa gajimu ke influencer kaya itu.
Investasi terbaik saat ini adalah ke otak sendiri. beli buku, ikut sertifikasi, atau belajar skill teknis yang beneran dipakai industri. Definisikan kebebasan versi kamu sendiri. Mungkin bukan naik Ferrari, tapi bisa tidur nyenyak tanpa dikejar depollektor pinjol. Itu valid banget. Intinya, berhenti merasa kecil di hadapan konten pamer harta yang mungkin propertinya cuma sewaan.
Kayak itu maraton, bukan lari sprint. Kalau besok ada lagi yang nawarin jalan pintas menuju kekayaan tanpa kerja keras, pegang dompet kamu erat-erat dan lari ke arah sebaliknya. Kita bangun kekayaan dengan cara lama yang terbukti. Kerja cerdas, konsisten, dan ggak halu. Sampai jumpa di garis finish yang nyata. Coo.
sumber https://www.youtube.com/@ilmulidi
Publikasi : Erlangga Tirta Agustinus
0 comments:
Posting Komentar